BANJARTV
🔍
Tema ini dioptimalkan untuk perangkat mobile.
Lintas Banua
Pembinaan PAAREDI di Gambah Dalam, Ketua TP PKK HSS Tekankan Inovasi Program • Tim Takraw Putra dan Putri HSS Raih Emas di POPDA Kalsel 2026 • KKN Internasional ULM Bangun Pojok Baca dan Papan Informasi di Kawasan FELDA Malaysia • Penyegaran Birokrasi, Pemkab HSS Rotasi Sejumlah Pejabat Strategis • Tim Takraw Putri HSS Tampil Perkasa di POPDA Kalsel, Tim Putra Melaju ke Semifinal • Takraw HSS Tampil Gemilang di POPDA Kalsel, HSS-A dan HSS-B Juara Pool • Sekda HSS Hadiri Sidang GTRA Penetapan Redistribusi Tanah 2026 • 30 Hari Bangun Desa, TMMD ke-128 di HSS Resmi Berakhir • Banjar TV akan Hadir Gasan Bubuhan Pian Sabarataan.....
Penyiaran, Kebenaran, dan Ketahanan Nasional di Tengah Banjir Informasi

Penyiaran, Kebenaran, dan Ketahanan Nasional di Tengah Banjir Informasi

📅 05 Apr 2026 ✍️ banjartv 🕐 05 Apr 2026
Bagikan

Oleh: Nanik Hayati, Komisioner KPID Kalimantan Selatan

Banjartv.com, Banjarmasin — Lebih dari dua dekade saya berkecimpung di ruang redaksi televisi. Ada satu “mantra” yang dulu selalu kami pegang: siapa paling cepat, dialah yang menang. Breaking news adalah panggung utama, dan kecepatan menjadi segalanya.

Saya masih mengingat suasana itu—telepon berdering tanpa henti, reporter siaga di lapangan untuk siaran langsung, dan riuh rendah ruang kontrol yang berpacu dengan waktu. Satu tujuan yang kami kejar: tayang lebih dulu. Pada masa itu, publik menggantungkan informasi pada televisi untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.

Namun hari ini, lanskap tersebut telah berubah drastis. Informasi mengalir deras tanpa henti dari berbagai arah. Media sosial, platform digital, hingga kanal personal kini menjelma menjadi “penyiar” baru. Setiap orang bisa menjadi sumber sekaligus penyebar informasi.

Pertanyaannya, apakah kecepatan masih menjadi nilai utama?

Di tengah arus informasi yang begitu deras, kecepatan tanpa akurasi justru dapat menjadi bumerang. Kita menyaksikan bagaimana hoaks, disinformasi, bahkan manipulasi konten menyebar jauh lebih cepat daripada klarifikasinya. Dalam situasi seperti ini, publik tidak hanya membutuhkan informasi yang cepat, tetapi juga yang benar, terverifikasi, dan dapat dipercaya.

Di sinilah penyiaran dituntut untuk kembali menemukan jati dirinya—bahkan melampauinya.

Sebagai komisioner penyiaran daerah sekaligus mantan jurnalis televisi, saya melihat peran lembaga penyiaran justru semakin krusial. Bukan lagi sekadar menjadi yang pertama, tetapi menjadi yang paling bertanggung jawab. Penyiaran harus hadir sebagai penjernih di tengah keruhnya arus informasi—menjadi penuntun, bukan sekadar pengikut.

Kecepatan tetap penting, tetapi harus berjalan seiring dengan akurasi, etika, dan kepentingan publik.

Ketika penyiaran mampu menghadirkan informasi yang akurat, berimbang, dan bertanggung jawab, maka ia menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas sosial, memperkuat kepercayaan publik, serta merawat kebinekaan.

Baca Juga  Empat Atlet Kurash Kalsel Siap Wakili Indonesia di Ajang Internasional

Di tengah derasnya arus informasi global, penyiaran nasional ibarat benteng—yang menjaga masyarakat dari polarisasi, melindungi publik dari manipulasi, dan memastikan ruang informasi tetap sehat serta beradab.

Karena itu, kolaborasi menjadi kunci. Lembaga penyiaran, regulator, pemerintah, dan masyarakat harus berjalan bersama. Tidak bisa sendiri-sendiri. Ketahanan nasional hari ini tidak hanya dibangun di darat, laut, dan udara, tetapi juga di ruang informasi.

Pada akhirnya, penyiaran bukan semata soal kecepatan. Lebih dari itu, ia adalah tentang tanggung jawab dalam melayani publik sekaligus menjaga kedaulatan bangsa dari ancaman disinformasi.

Mungkin hari ini kita tidak selalu menjadi yang pertama. Namun kita harus memastikan tetap menjadi yang paling dapat dipercaya.

Sebab pada akhirnya, bukan yang tercepat yang akan menguatkan bangsa, melainkan informasi yang paling valid dan terpercaya.

Selamat Hari Penyiaran Nasional ke-93.

Bagikan: WhatsApp Facebook