Oleh: Nanik Hayati, Komisioner KPID Kalimantan Selatan
Banjartv.com, Banjarmasin — Lebih dari dua dekade saya berkecimpung di ruang redaksi televisi. Ada satu “mantra” yang dulu selalu kami pegang: siapa paling cepat, dialah yang menang. Breaking news adalah panggung utama, dan kecepatan menjadi segalanya.

Saya masih mengingat suasana itu—telepon berdering tanpa henti, reporter siaga di lapangan untuk siaran langsung, dan riuh rendah ruang kontrol yang berpacu dengan waktu. Satu tujuan yang kami kejar: tayang lebih dulu. Pada masa itu, publik menggantungkan informasi pada televisi untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
Namun hari ini, lanskap tersebut telah berubah drastis. Informasi mengalir deras tanpa henti dari berbagai arah. Media sosial, platform digital, hingga kanal personal kini menjelma menjadi “penyiar” baru. Setiap orang bisa menjadi sumber sekaligus penyebar informasi.
Pertanyaannya, apakah kecepatan masih menjadi nilai utama?
Di tengah arus informasi yang begitu deras, kecepatan tanpa akurasi justru dapat menjadi bumerang. Kita menyaksikan bagaimana hoaks, disinformasi, bahkan manipulasi konten menyebar jauh lebih cepat daripada klarifikasinya. Dalam situasi seperti ini, publik tidak hanya membutuhkan informasi yang cepat, tetapi juga yang benar, terverifikasi, dan dapat dipercaya.
Di sinilah penyiaran dituntut untuk kembali menemukan jati dirinya—bahkan melampauinya.
Sebagai komisioner penyiaran daerah sekaligus mantan jurnalis televisi, saya melihat peran lembaga penyiaran justru semakin krusial. Bukan lagi sekadar menjadi yang pertama, tetapi menjadi yang paling bertanggung jawab. Penyiaran harus hadir sebagai penjernih di tengah keruhnya arus informasi—menjadi penuntun, bukan sekadar pengikut.
Kecepatan tetap penting, tetapi harus berjalan seiring dengan akurasi, etika, dan kepentingan publik.
Ketika penyiaran mampu menghadirkan informasi yang akurat, berimbang, dan bertanggung jawab, maka ia menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas sosial, memperkuat kepercayaan publik, serta merawat kebinekaan.
Di tengah derasnya arus informasi global, penyiaran nasional ibarat benteng—yang menjaga masyarakat dari polarisasi, melindungi publik dari manipulasi, dan memastikan ruang informasi tetap sehat serta beradab.
Karena itu, kolaborasi menjadi kunci. Lembaga penyiaran, regulator, pemerintah, dan masyarakat harus berjalan bersama. Tidak bisa sendiri-sendiri. Ketahanan nasional hari ini tidak hanya dibangun di darat, laut, dan udara, tetapi juga di ruang informasi.
Pada akhirnya, penyiaran bukan semata soal kecepatan. Lebih dari itu, ia adalah tentang tanggung jawab dalam melayani publik sekaligus menjaga kedaulatan bangsa dari ancaman disinformasi.
Mungkin hari ini kita tidak selalu menjadi yang pertama. Namun kita harus memastikan tetap menjadi yang paling dapat dipercaya.
Sebab pada akhirnya, bukan yang tercepat yang akan menguatkan bangsa, melainkan informasi yang paling valid dan terpercaya.
Selamat Hari Penyiaran Nasional ke-93.
