BANJARTV
🔍
Tema ini dioptimalkan untuk perangkat mobile.
Lintas Banua
Muscab Pramuka HSS Dimajukan ke Desember 2026, Ini Alasan Ketua Kwarcab • Kandangan Ethnic Sasirangan Fashion Show, Dorong Pelestarian Budaya dan Pengembangan UMKM • JERITAN HATI ANAK KALIMANTAN YANG TERSAPU KABUT ASAP • Bazar hingga Tata Rias Lokal, Yuniati Iberahim Dorong Penguatan UMKM di Kandangan • Kabut Asap Tak Padamkan Kreativitas, 90 Penampil Meriahkan Fashion Show Sasirangan di HSS • Semarak Hari Santri 2026 di HSS, Puluhan Pesantren Adu Prestasi dalam Berbagai Lomba • Wakili Bupati, Sekda HSS Buka Festival Kalayangan Dandang 2026 • Kalimantan Selatan Dipercaya Jadi Tuan Rumah Muktamar XXI IMM • Banjar TV akan Hadir Gasan Bubuhan Pian Sabarataan.....
JERITAN HATI ANAK KALIMANTAN YANG TERSAPU KABUT ASAP

JERITAN HATI ANAK KALIMANTAN YANG TERSAPU KABUT ASAP

📅 18 Oct 2026 ✍️ banjartv 🕐 9 jam lalu
Bagikan

Oleh: Syarfani

Aku adalah anak Kalimantan.

Dulu, ibuku meninabobokanku dengan suara enggang yang terbang di atas rumah. Ayahku mengajariku berenang di sungai yang jernih, di bawah rindangnya pohon meranti yang usianya ratusan tahun.

Hutan adalah rumahku. Hutan adalah sekolahku. Hutan adalah ibuku.

Tapi hari ini… aku terbangun bukan karena kicau burung, tapi karena sesak.

Asap.

Tebal. Pekat. Pahit. Masuk ke dalam paru-paru kecilku. Masuk ke dalam rumah kayu kami. Menutupi matahari. Menutupi masa depanku.

Langit biru yang dulu kukenal dari cerita guru di sekolah, kini hanya dongeng. Yang ada hanya langit berwarna oranye kotor, langit yang membuat mataku perih dan batukku tak berhenti.

Sekolahku tutup. Teman-temanku terbaring di Puskesmas dengan selang oksigen. Kami semua menjadi korban, padahal kami tidak pernah membakar satu batang kayu pun.

Di luar, hutan kami menjerit.

Aku mendengar tangisannya.

Aku mendengar jeritan Orang Utan. Induk yang memeluk anaknya erat di atas pohon yang terbakar. Mereka tidak mengerti kenapa rumah mereka dibakar. Mereka tidak mengerti apa itu investasi, apa itu sawit, apa itu konsesi. Mereka hanya tahu, rumah mereka dirampas dan dibakar.

Aku mendengar tangisan Bekantan, monyet berhidung panjang maskot kebanggaanku. Mereka melompat dari dahan ke dahan yang sudah menjadi bara api, lalu jatuh.

Aku mendengar tangisan Beruang Madu, Owa, dan ribuan burung yang sarangnya hangus dalam semalam.

Mereka menangis, Pak… mereka menangis seperti aku menangis.

Siapa yang membakar hutan kami?

Mengapa orang-orang dewasa yang berseragam dan berdasi di kota itu hanya diam? Mengapa mereka hanya rapat? Mengapa mereka baru datang saat hutan sudah jadi abu dan foto kami yang sesak sudah viral?

Baca Juga  Peringatan Haul Datu H. Abbas dan Datu Taniran, Bupati HSS Tekankan Keteladanan dan Persatuan Umat

Apakah mereka tidak mendengar jeritan kami?

Aku anak Kalimantan. Aku tidak butuh baliho “Kalimantan Bebas Asap”. Aku butuh udara untuk bernapas.

Aku tidak butuh janji “akan kami usut”. Aku butuh hutan itu kembali. Aku butuh teman-temanku, si Orang Utan dan si Bekantan itu kembali bermain di belakang rumahku.

Jangan biarkan aku tumbuh besar hanya dengan cerita tentang hutan. Jangan biarkan anakku nanti bertanya, “Ayah, bagaimana bentuk Orang Utan itu?”

Karena jika hari ini kalian masih membiarkan Kalimantan dibakar, maka kalian tidak hanya membakar pohon, kalian membakar masa depan kami, anak-anak Kalimantan.

Bagikan: WhatsApp Facebook