BANJARTV
🔍
Tema ini dioptimalkan untuk perangkat mobile.
Lintas Banua
Bupati HSS Hadiri HUT ke-74 HSU, Soroti Pentingnya Sinergi Antar Daerah • Ratusan Dokter Anak Bahas Penanganan Bayi Prematur di Banjarmasin, Targetkan Penurunan Angka Kematian • Produksi Padi HSS Tembus 26 Ribu Ton, Bupati Dorong Tanam Serentak • Ketupat Kandangan Jemput Bola ke Loksado, Pengesahan Perkawinan Dipermudah dan Gratis • Ketua DPRD HSS Buka Pelatihan Jurnalistik Pelajar di SMAN 1 Angkinang • Komisi I DPRD HSS Soroti Mutu Layanan Kesehatan Peserta BPJS • RAT KPRI Syariah “Sewarga” 2025 Tekankan Transparansi dan Penguatan Kinerja • TMMD ke-128 HSS Percepat Pengecoran Jalan Pantai Ulin–Ulin dengan Excavator • Banjar TV akan Hadir Gasan Bubuhan Pian Sabarataan.....
Ratusan Dokter Anak Bahas Penanganan Bayi Prematur di Banjarmasin, Targetkan Penurunan Angka Kematian

Ratusan Dokter Anak Bahas Penanganan Bayi Prematur di Banjarmasin, Targetkan Penurunan Angka Kematian

📅 30 Apr 2026 ✍️ banjartv 🕐 3 hari lalu
Bagikan

BANJARTV.COM, BANJARMASIN – Ratusan dokter spesialis anak dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul dalam 10th Annual Neonatology Update (ANU) 2026 yang digelar di Fugo Hotel, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada 30 April hingga 1 Mei 2026. Forum ilmiah ini menjadi momentum penting untuk memperkuat upaya penanganan bayi baru lahir, khususnya bayi prematur dan berisiko tinggi, guna menekan angka kematian bayi.

Kegiatan yang diinisiasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Kalimantan Selatan bekerja sama dengan Unit Kerja Koordinasi (UKK) Neonatologi IDAI Pusat ini diikuti hampir 500 peserta dari berbagai provinsi, mulai dari Kalimantan, Jawa, Sumatera hingga Papua.

Ketua Panitia Pelaksana, dr. Pudji Andayani, Sp.A, Subsp.Neo, mengatakan tingginya partisipasi peserta menunjukkan besarnya perhatian tenaga medis terhadap peningkatan kualitas layanan kesehatan neonatal.

“Pertemuan ini dirancang untuk menyatukan para neonatolog, dokter anak, residen, perawat, serta tenaga kesehatan lainnya yang memiliki komitmen dalam meningkatkan perawatan bayi baru lahir,” ujarnya usai pembukaan simposium dan workshop, Kamis (30/4).

Pada penyelenggaraan ke-10 ini, ANU mengangkat tema “Nurturing Future: Early Intervention and Developmental Care for Small Vulnerable Newborns”. Tema tersebut menekankan pentingnya intervensi dini, perawatan berbasis keluarga, serta inovasi dalam praktik neonatologi untuk meningkatkan peluang hidup bayi.

Ketua UKK Neonatologi IDAI Pusat, Dr. dr. R. Adhi Teguh Perma Iskandar, Sp.A, Subsp.Neo(K), menegaskan forum ini menjadi ruang strategis untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam upaya menekan angka kematian bayi di Indonesia.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, angka kematian bayi di Indonesia masih berada pada kisaran 9–10 per 1.000 kelahiran hidup. “Target kita adalah menurunkannya menjadi 7 per 1.000 kelahiran hidup,” jelasnya.

Ia menyebut, tingginya angka tersebut dipengaruhi berbagai faktor, di antaranya kurangnya pemeriksaan kehamilan secara rutin. Kondisi ini dapat menyebabkan bayi lahir prematur, berat badan rendah, hingga infeksi saat persalinan yang berisiko fatal bagi bayi.

Untuk menekan angka kematian bayi, terdapat tiga aspek utama yang perlu dibenahi. Pertama, sistem rujukan yang terintegrasi dan didukung sarana transportasi memadai, baik darat, laut, maupun udara, mengingat kondisi geografis Indonesia.

Kedua, ketersediaan sumber daya manusia. Saat ini, jumlah dokter ahli neonatologi di Indonesia masih sekitar 400 orang, jauh dari kebutuhan ideal yang diperkirakan mencapai 4.000 hingga 4.500 tenaga ahli.

Ketiga, dukungan fasilitas kesehatan, khususnya di tingkat pelayanan dasar seperti puskesmas. Fasilitas tersebut perlu dilengkapi alat bantu pernapasan sederhana, inkubator, serta obat-obatan esensial untuk penanganan awal sebelum dirujuk ke ruang perawatan intensif neonatal (NICU).

Sementara itu, Ketua UKK Neonatologi IDAI Kalimantan Selatan, Prof. Dr. dr. H. Ari Yunanto, Sp.A(K), IBCLC, S.H., menekankan pentingnya kolaborasi lintas profesi, termasuk dengan dokter spesialis kandungan, dalam menangani persalinan berisiko tinggi.

Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak berkecil hati jika bayi lahir dalam kondisi prematur atau berat badan rendah.

“Bayi-bayi ini adalah generasi masa depan. Dengan penanganan, nutrisi, dan lingkungan yang tepat, mereka memiliki peluang tumbuh dan berkembang secara optimal,” tuturnya.

Melalui kegiatan ini, IDAI berharap kualitas penanganan bayi baru lahir di Indonesia terus meningkat, sehingga mampu menekan angka kematian sekaligus menjamin tumbuh kembang anak yang lebih baik di masa depan.

*(EAM/BANJARTV.COM)

Bagikan: WhatsApp Facebook