BANJARTV
🔍
Tema ini dioptimalkan untuk perangkat mobile.
Lintas Banua
Desa Gambah Luar Muka Jadi Percontohan PK2D 2026 di HSS • Pemkab HSS dan TNI AL Ziarah ke Makam Hasan Basry, Kenang Jasa Proklamator Kalimantan • Wabup HSS Tekankan Program Pembangunan 2026 Harus Berdampak Nyata • Wabup HSS Apresiasi Prestasi Atlet Domino, Orado Bidik Pengakuan KONI dan KORMI • Wabup HSS Bahas Peluang Kerja Sama Pendidikan Bersama BIM University • DPRD HSS dan TAPD Mulai Bahas KUA-PPAS 2027, Prioritaskan Pertanian hingga Infrastruktur • Bupati HSS Bahas Program Strategis Daerah Bersama Sejumlah Kementerian di Jakarta • Pemkab HSS Raih Penghargaan dari Kapolda Kalsel atas Dukungan Assessment ASN • Banjar TV akan Hadir Gasan Bubuhan Pian Sabarataan.....
Laris Manis di Bulan Puasa, Temulawak Sani Bertahan Lebih dari 50 Tahun

Laris Manis di Bulan Puasa, Temulawak Sani Bertahan Lebih dari 50 Tahun

📅 27 Feb 2026 ✍️ banjartv 🕐 27 Feb 2026
Bagikan

Banjartv.com, Martapura – Di tengah menjamurnya minuman kekinian di pasaran, temulawak tradisional Temulawak Sani tetap memiliki tempat tersendiri di hati pelanggan. Usaha yang telah dirintis lebih dari setengah abad ini terus bertahan, bahkan mengalami peningkatan permintaan terutama saat bulan Ramadan.

Saidin, karyawan Temulawak Sani, menuturkan bahwa produksi minumannya meningkat signifikan menjelang dan selama bulan puasa. “Kalau bulan puasa, ada tambahan sedikit. Beda dengan hari biasa,” ujarnya.

Dalam sehari selama Ramadan, produksi temulawak bisa mencapai sekitar 5.000 liter. Jumlah tersebut jauh lebih besar dibandingkan hari-hari biasa yang cenderung lebih sedikit dan disesuaikan dengan permintaan pasar.

Menurut Saidin, usaha ini memang sudah dimulai dari lokasi tempatnya berjualan sekarang. Sejak awal berdiri hingga kini, proses pengolahan masih dilakukan secara tradisional. Bahan baku temulawak dibersihkan terlebih dahulu, kemudian dijemur hingga kering. Setelah itu disimpan sebelum diolah lebih lanjut.

“Dijemur dulu, disimpan. Kalau sudah kering, bisa tahan sampai tujuh atau delapan bulan,” jelasnya.

Untuk memenuhi kebutuhan produksi selama Ramadan, proses perebusan dilakukan hingga delapan kali dalam sehari. Menariknya, temulawak yang diproduksi hari itu juga langsung habis terjual tanpa menyisakan stok untuk keesokan hari.

“Tidak ada stok. Hari ini dibuat, hari ini juga dijual,” kata Saidin.

Lonjakan permintaan ini tak lepas dari meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap manfaat temulawak.

Selain dikenal sebagai minuman penyegar, temulawak juga dipercaya memiliki khasiat bagi kesehatan, seperti membantu meningkatkan daya tahan tubuh dan melancarkan pencernaan.

Salah satu pelanggan, Muhammad Syami, mengaku rutin membeli temulawak terutama saat bulan puasa. Menurutnya, minuman tersebut terasa menyegarkan setelah seharian menahan lapar dan dahaga.

“Pas buka puasa itu nyaman minum temulawak, segar. Apalagi habis aktivitas seharian,” ujarnya. Ia membeli temulawak untuk
konsumsi pribadi.

Di tengah persaingan produk serupa yang kini banyak beredar di pasaran, Temulawak Sani tetap bertahan dengan cita rasa khas dan proses tradisional yang dijaga turun-temurun.

Bagi Saidin, menjaga kualitas adalah kunci agar pelanggan tetap setia, terutama di momen Ramadan yang selalu membawa berkah tersendiri bagi usahanya.

*(ARD/Banjartv.com)

Bagikan: WhatsApp Facebook