BANJARTV
🔍
Tema ini dioptimalkan untuk perangkat mobile.
Lintas Banua
Bupati HSS Ajukan KUA-PPAS APBD 2027, Fokus Perkuat Pangan Lokal dan Industri Kreatif • Bupati HSS Hadiri Resepsi Pernikahan Bripda Ilham dan Fahrian Azizah • Bupati HSS Lepas Kontingen FORKI ke Kejuaraan Karate Shukaido Borneo II Se-Kalimantan • Wabup HSS Hadiri Saprah Amal, Ajak Masyarakat Gotong Royong Bangun Langgar Miftahul Khair • Pemkab HSS Perkuat Perlindungan Pekerja Rentan Lewat Program Perjaka HSS Semangat • Wabup HSS dan Danyonif TP 829 Perkuat Sinergi Ketahanan Pangan Daerah • Wabup HSS Tegaskan Optimalisasi PAD dari Pajak Hotel di Loksado • Dinsos P3AP2KB Banjar Ungkap Kasus Remaja 14 Tahun Terpapar Radikalisme Tingkat Tinggi, Kini Jalani Pendampingan Intensif • Banjar TV akan Hadir Gasan Bubuhan Pian Sabarataan.....
Sambut Ramadan, IAI Darul Ulum Kandangan Gelar Seminar Falak

Sambut Ramadan, IAI Darul Ulum Kandangan Gelar Seminar Falak

📅 17 Feb 2026 ✍️ banjartv 🕐 17 Feb 2026
Bagikan

Banjartv.com, Hulu Sungai Selatan – Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan, IAI Darul Ulum Kandangan menggelar seminar falak bertema “Mengurai Perbedaan Penetapan Awal Bulan di Indonesia” di Aula kampus setempat, Sabtu (14/2/2026).

Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman ilmiah kepada mahasiswa mengenai penentuan awal bulan Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, sekaligus menjelaskan faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan penetapan di Indonesia.

Seminar diikuti oleh mahasiswa dari berbagai program studi sebagai bagian dari penguatan wawasan akademik dan keislaman, khususnya dalam bidang ilmu falak. Materi yang disampaikan meliputi metode hisab dan rukyat, dasar-dasar astronomi dalam penentuan kalender Hijriah, serta dinamika perbedaan yang berkembang di tengah masyarakat.

Dosen Ilmu Falak Muhammad Rasyid menjelaskan bahwa perbedaan penetapan awal bulan merupakan hal yang wajar karena adanya perbedaan metode dan kriteria yang digunakan.

“Perbedaan dalam penentuan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah bukanlah sesuatu yang perlu dipertentangkan. Itu terjadi karena adanya perbedaan pendekatan, baik melalui metode hisab maupun rukyat, serta perbedaan kriteria yang dipakai masing-masing pihak,” ujarnya.

Ia menambahkan, mahasiswa perlu memahami persoalan tersebut secara komprehensif agar mampu memberikan penjelasan yang edukatif kepada masyarakat.

“Kami berharap mahasiswa tidak hanya memahami teori ilmu falak, tetapi juga mampu bersikap moderat dan menumbuhkan semangat persatuan dalam menyikapi perbedaan. Ramadan adalah momentum memperkuat ukhuwah, bukan memperbesar perbedaan,” katanya.

Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa tampak antusias mengikuti pemaparan materi dan aktif dalam sesi diskusi. Berbagai pertanyaan diajukan terkait praktik penentuan awal bulan dan perbedaan yang kerap terjadi di Indonesia.

Melalui seminar ini, kampus berharap lahir generasi yang tidak hanya memahami aspek ilmiah penentuan kalender Hijriah, tetapi juga mampu menjadi penyejuk di tengah masyarakat dalam menyikapi perbedaan penetapan awal bulan.

Baca Juga  Lagu ulun babakti ciptaan suriani raih juara pertama pada lomba cipta lagu anak Bahasa banjar

*(UCK/Banjartv.com)

Bagikan: WhatsApp Facebook